Tanamkan Rasa Kesadaran
Kehadirannya
yang secara mendadak selalu berhasil membuat penduduk kota Jakarta gelisah. Sampah
yang berada dimana-mana telah berhasil membuat mereka enggan untuk bernafas.
Ironis, kehadirannya selalu bisa melenyapkan uang puluhan juta atau bahkan
merenggut nyawa manusia yang tidak bernilai harganya.
Jakarta,
hampir semua orang berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan di Ibu Kota tanpa
berpikir panjang lebar. Bekerja di salah satu gedung pencakar langit merupakan
impian mereka, tetapi ya itulah mereka tidak akan pernah tahu apa yang akan
terjadi, keberhasilan atau sebaliknya?
Kemacetan di
Ibu Kota seolah menggambarkan banyaknya orang yang melakukan aktivitas
disekitar dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil.
Ironis, ketika melihat banyaknya mobil, motor dan beberapa kendaraan lainnya
yang terendam banjir pada awal tahun 2013.
Pluit, Jakarta
Utara, merupakan salah satu kawasan elite yang terkena banjir cukup dalam.
Banyaknya sampah menggenangi rumah mewah di kawasan tersebut. Tidak peduli
berapa banyak harta benda yang terendam, karena yang mereka utamakan adalah
tempat istirahat. Mereka yang memiliki harta lebih, berlomba-lomba menginap di
hotel, sedangkan mereka yang nasibnya bertolak belakang hanya dapat berdiam
diri dirumah untuk mempertahankan harta benda atau bahkan berdiam diri disebuah
tenda kecil yang dipenuhi para pengungsi lainnya.
“Banjir tahun
ini tuh banjir yang paling parah dari tahun sebelumnya dek tetapi ya gitu,
masih banyak warga yang maksa untuk tetap dirumah” ujar seorang pendorong gerobak sewaan yang
berbadan kurus dan berkulit hitam, maman. Ia adalah seorang pendorong gerobak
sewaan yang berusia 32 tahun, namun siapa sangka bahwa pekerjaan maman
sebelumnya adalah sebagai calo. Berbagai macam akan ia lakukan dari pengurusan SIM
(Surat Izin Mengemudi), passport,
STNK, dan lain-lain. Ia merupakan orang yang cukup cerdas karena telah mencari
keuntungan dari banjir tersebut.
Banyaknya orang
berlalu-lalang membuat para volunteer
bencana banjir kesulitan untuk mengatur tumpukan-tumpukan kardus yang ada di
beberapa tenda sekitar. Seorang mahasiswa berbadan tinggi dan tegap ini
merupakan aktivis kampus yang selalu ada disetiap bencana yang terjadi seperti
di Aceh dan Yogyakarta, Aditya. “Sebenarnya sulit juga sih ngatur waktu antara
kuliah dan jadi relawan kayak gini, tetapi buat saya, turun langsung ke bencana
itu wajib dan akan fun banget karena
disanalah kalian bisa ngukur rasa kepedulian” ujar mahasiswa 21 tahun itu.
“Cobain deh
kayak gitu, selain kalian bisa ngukur rasa kepedulian, kalian juga bisa kenal
dengan banyak orang dan mengetahui suatu hal yang sebelumnya kalian enggak
tahu. Dari orang yang ngajak kenalan, anak kecil yang minta diajarin jadi
dokter, dan lain-lain. Tidak heran kenapa ia menyukai hal seperti itu. Aditya
adalah mahasiswa fakultas kedokteran. Tujuan ia masuk fakultas kedokteran salah
satunya untuk membantu banyak orang
Banjir yang
terjadi pada awal tahun 2013 itu memang sempat membuat bunderan Hotel Indonesia
terendam. Mereka yang memiliki banyak kendaraan pribadi seolah tidak diizinkan
karena mobil-mobil tersebut terendam. Penduduk di bawah garis kemiskanan
bertambah banyak tetapi mereka yang memiliki harta lebih sedang
menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna.
Seorang wanita
berrambut cokelat dan berbadan kurus itu sedang menunggu kereta api di stasiun
dengan genggaman penuh dengan tas “enggak nalar lagi sih sama orang Jakarta, buang
sampah suka seenaknya, liat aja nih banyak sampah, udah gitu gimana enggak
macet kan semua kendaraan dirumahnya yang mereka punya dikeluarin, enggak bisa
mandiri atau memanfaatkan transportasi yang udah disediain” ujar ajeng
mahasiswa yang berusia 21 tahun.
Banjir tidak
lain terjadi karena banyaknya sampah yang menumpuk dimana-mana. Hampir semua
orang tidak bisa menjaga kebersihan, dari seorang pengendara yang membuang
botol minum sembarangan, membuang putung rokok di jalan, membuang berbagai
macam plastik dan sebagainya tidak pada tempat, itulah yang mengakibatkan
banjir. Malu lah kepada diri sendiri karena Indonesia, tepatnya Jakarta tidak
bisa sebersih Negara lain karena hal kecil yang kita lakukan.
Eisha Arifah Widyapuspita
11140110133




