Activate Kenya Rising
(My Voice My Vote and Our Future)
Oleh: Karen Moyo
Nairobi adalah Ibu Kota dan sekaligus
menjadi kota terbesar di Kenya, Afrika Timur. Kebanyakan dari masyarakat Kenya
mengalami kemiskinan, mereka dapat bertahan hidup hanya dengan biaya dibawah $1
setiap harinya. Pada tahun 2007, kerusuhan sangat mewarnai Ibu Kota, tepat pada
saat terpilihnya Mwai Kibaki menjadi presiden ketiga Kenya. Lebih dari 1.100
orang terbunuh dan 600.000 orang terlantar.
“Kenya merupakan salah satu negara yang
paling indah di dunia tetapi para penduduknya sangatlah penakut sehingga tidak
pernah mengambil sebuah keputusan.”
Boniface Mwangi (29), seorang aktivis
yang berasal dari Kenya dan pernah menjadi fotografer. Karya kerusuhan yang
diambil Boniface dalam sebuah gambar mengakibatnya dirinya memenangkan beberapa
penghargaan Global Award. Atas kehadiran
Boniface inilah penduduk Kenya dapat mengeluarkan apa yang seharusnya dilakukan
dikatakan. Berbagai macam aksi dilakukan oleh Boniface dan teman-temanya.
Boniface tidak ingin menghancurkan Kenya, ia hanya ingin masyarakat Kenya tahu
apa yang sudah diperbuat oleh Parlemen kepada mereka.
Pada jam 10 malam di Central Nairobi inilah aksi pertama yang dilakukan Boniface.
Grafiti demi grafiti dibuat oleh Boniface dan tim, yang berisikan lima orang
dan hanya menggunakan satu tangga Burung pemakan bangkai, merupakan sebuah
burung yang menjadi lambang awal pemberontakan. “Ini adalah cerita tentang
kenya. Kami mempunyai burung pemakan bangkai yang merupakan anggota parlemen.
Mereka rakus, mereka makan berasal dari pajak yang kami berikan, mereka
mengambil lahan kami, jadi kami menggunakan seni untuk memberitahu mereka kalau
kami sebenarnya tahu siapa mereka! Kami tahu kalian adalah penjahat yang kejam
dan kami disini berjuang untuk merebut kembali Kenya!” ucap boniface dengan
amarah.
Keesokan paginya, terdapat banyak sekali
penduduk Kenya yang melihat hasil karya Boniface dan tim. “ini adalah seseorang
yang ingin membawa kerusuhan kembali ke Kenya. Lelaki ini berbicara pada
kebenaran dan ini adalah kebenaran yang sangat polos” ucap seseorang terhadap
sebuah gambar para pengunjuk rasa yang berbicara “My Voice, My Vote, and My Future”
Banyak orang yang berpikir bahwa “ya saya
memang bodoh karena telah memilih orang yang salah” akibat gambar burung
pemakan bangkai yang terdapat tulisan “I
am a tribal leader, they loot, rape, burn
and kill in my defence. I steal their taxes, grab land, but the idiots will
still vote for me”
Akibat dari gravity buatannya itulah hal tersebut menjadi berita nasional dan
beberapa politisi ingin memanfaatkan Boniface dan tim dengan berbagai macam
hadiah yang akan diberikan. “Saya didekati oleh beberapa politisi dan mereka
mengajak untuk bekerjasama karena kandidatnya mewakili perubahan yang kami
inginkan, lalu mereka akan memberikan sejumlah uang dan masa depan yang cerah.”
Boniface pun tetap menolaknya walaupun dijanjikan banyak hal dan itu akan
menjadi masalah besar untuknya. Kenya memberlakukan hukum selektif, jika kamu
lemah dan miski maka mereka akan datang dengan kekuatan penuh, jika kamu kaya
dan mengeluarkan banyak uang maka mereka akan menawarkan perlindungan.
Aksi selanjutnya yang digunakan oleh
Boniface dan tim terletak di Naivasha, kota yang letaknya 85 km dari Nairobi.
Aksi yang dilakukan adalah dengan menggunakan foto-foto kerusuhan yang terjadi
pada 2007. Sayang, pertentangan dari pihak lain pun datang. “Foto-foto tersebut
tidak diperbolehkan dibawa ke Naivasha karena mereka semua sudah melupakan
kerusuhan yang tejadi tetapi sekarang foto inilah yang akan menghantui mereka
nantinya.” Boniface memang sudah memiliki surat izin untuk pameran tersebut
tetapi tetap saja berbagai macam foto yang dipamerkan di lepas secara paksa.
Boniface pun tidak ingin menyerah begitu
saja. Terdapat 49 peti mati yang mewakili setiap tahun impunitas politisi yang
telah dinikmati sejak kemerdekaan. Uhuru, seorang grafiti handal ingin mengubur
burung pemakan bangkai bersama dengan pemilihan suara.
“Aku pikir mungkin terdapat
kesalahpahaman, kita sebenarnya tidak ingin burung bangkai itu ada di dalam
peti mati. Apa yang kita kubur bukan parlemen, bukan burung bangkai, tetapi
dosa dan semua hal buruk yang harus kita kubur.” Ujar istri Boniface, Njeri
Mwangi.
Tidak mudah memang melakukan aksi seperti ini,
Boniface dan tim pun cemas sehingga mereka mengambil kemungkinan terburuk dan
kemungkinan terbaik dibalik aksi tersebut. Puluhan warga dengan semangat
menggebu membawa 49 peti mati tersebut ke gedung parlemen. Boniface tidak ingin
Kenya hancur, ia hanya ingin perubahan yang baik untuk Kenya oleh karena itulah
ia menciptakan berbagai macam aksi.
Eisha Arifah Widyapuspita
11140110133
Fakultas Jurnalistik
Penulisan Feature




