Selasa, 26 Februari 2013

Activate Kenya Rising

Activate Kenya Rising
(My Voice My Vote and Our Future)
Oleh: Karen Moyo


Nairobi adalah Ibu Kota dan sekaligus menjadi kota terbesar di Kenya, Afrika Timur. Kebanyakan dari masyarakat Kenya mengalami kemiskinan, mereka dapat bertahan hidup hanya dengan biaya dibawah $1 setiap harinya. Pada tahun 2007, kerusuhan sangat mewarnai Ibu Kota, tepat pada saat terpilihnya Mwai Kibaki menjadi presiden ketiga Kenya. Lebih dari 1.100 orang terbunuh dan 600.000 orang terlantar.
“Kenya merupakan salah satu negara yang paling indah di dunia tetapi para penduduknya sangatlah penakut sehingga tidak pernah mengambil sebuah keputusan.”
Boniface Mwangi (29), seorang aktivis yang berasal dari Kenya dan pernah menjadi fotografer. Karya kerusuhan yang diambil Boniface dalam sebuah gambar mengakibatnya dirinya memenangkan beberapa penghargaan Global Award. Atas kehadiran Boniface inilah penduduk Kenya dapat mengeluarkan apa yang seharusnya dilakukan dikatakan. Berbagai macam aksi dilakukan oleh Boniface dan teman-temanya. Boniface tidak ingin menghancurkan Kenya, ia hanya ingin masyarakat Kenya tahu apa yang sudah diperbuat oleh Parlemen kepada mereka.
Pada jam 10 malam di Central Nairobi inilah aksi pertama yang dilakukan Boniface. Grafiti demi grafiti dibuat oleh Boniface dan tim, yang berisikan lima orang dan hanya menggunakan satu tangga Burung pemakan bangkai, merupakan sebuah burung yang menjadi lambang awal pemberontakan. “Ini adalah cerita tentang kenya. Kami mempunyai burung pemakan bangkai yang merupakan anggota parlemen. Mereka rakus, mereka makan berasal dari pajak yang kami berikan, mereka mengambil lahan kami, jadi kami menggunakan seni untuk memberitahu mereka kalau kami sebenarnya tahu siapa mereka! Kami tahu kalian adalah penjahat yang kejam dan kami disini berjuang untuk merebut kembali Kenya!” ucap boniface dengan amarah.
Keesokan paginya, terdapat banyak sekali penduduk Kenya yang melihat hasil karya Boniface dan tim. “ini adalah seseorang yang ingin membawa kerusuhan kembali ke Kenya. Lelaki ini berbicara pada kebenaran dan ini adalah kebenaran yang sangat polos” ucap seseorang terhadap sebuah gambar para pengunjuk rasa yang berbicara “My Voice, My Vote, and My Future”
Banyak orang yang berpikir bahwa “ya saya memang bodoh karena telah memilih orang yang salah” akibat gambar burung pemakan bangkai yang terdapat tulisan “I am a tribal leader, they loot, rape, burn and kill in my defence. I steal their taxes, grab land, but the idiots will still vote for me”
Akibat dari gravity buatannya itulah hal tersebut menjadi berita nasional dan beberapa politisi ingin memanfaatkan Boniface dan tim dengan berbagai macam hadiah yang akan diberikan. “Saya didekati oleh beberapa politisi dan mereka mengajak untuk bekerjasama karena kandidatnya mewakili perubahan yang kami inginkan, lalu mereka akan memberikan sejumlah uang dan masa depan yang cerah.” Boniface pun tetap menolaknya walaupun dijanjikan banyak hal dan itu akan menjadi masalah besar untuknya. Kenya memberlakukan hukum selektif, jika kamu lemah dan miski maka mereka akan datang dengan kekuatan penuh, jika kamu kaya dan mengeluarkan banyak uang maka mereka akan menawarkan perlindungan.
Aksi selanjutnya yang digunakan oleh Boniface dan tim terletak di Naivasha, kota yang letaknya 85 km dari Nairobi. Aksi yang dilakukan adalah dengan menggunakan foto-foto kerusuhan yang terjadi pada 2007. Sayang, pertentangan dari pihak lain pun datang. “Foto-foto tersebut tidak diperbolehkan dibawa ke Naivasha karena mereka semua sudah melupakan kerusuhan yang tejadi tetapi sekarang foto inilah yang akan menghantui mereka nantinya.” Boniface memang sudah memiliki surat izin untuk pameran tersebut tetapi tetap saja berbagai macam foto yang dipamerkan di lepas secara paksa.
Boniface pun tidak ingin menyerah begitu saja. Terdapat 49 peti mati yang mewakili setiap tahun impunitas politisi yang telah dinikmati sejak kemerdekaan. Uhuru, seorang grafiti handal ingin mengubur burung pemakan bangkai bersama dengan pemilihan suara.
“Aku pikir mungkin terdapat kesalahpahaman, kita sebenarnya tidak ingin burung bangkai itu ada di dalam peti mati. Apa yang kita kubur bukan parlemen, bukan burung bangkai, tetapi dosa dan semua hal buruk yang harus kita kubur.” Ujar istri Boniface, Njeri Mwangi.
Tidak mudah memang melakukan aksi seperti ini, Boniface dan tim pun cemas sehingga mereka mengambil kemungkinan terburuk dan kemungkinan terbaik dibalik aksi tersebut. Puluhan warga dengan semangat menggebu membawa 49 peti mati tersebut ke gedung parlemen. Boniface tidak ingin Kenya hancur, ia hanya ingin perubahan yang baik untuk Kenya oleh karena itulah ia menciptakan berbagai macam aksi.

Eisha Arifah Widyapuspita
11140110133

 Universitas Multimedia Nusantara
Ilmu Komunikasi
Fakultas Jurnalistik
Penulisan Feature

Tidak ada komentar:

Posting Komentar