Selasa, 19 Maret 2013

Tanamkan Rasa Kesadaran


Tanamkan Rasa Kesadaran

            Kehadirannya yang secara mendadak selalu berhasil membuat penduduk kota Jakarta gelisah. Sampah yang berada dimana-mana telah berhasil membuat mereka enggan untuk bernafas. Ironis, kehadirannya selalu bisa melenyapkan uang puluhan juta atau bahkan merenggut nyawa manusia yang tidak bernilai harganya.
            Jakarta, hampir semua orang berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan di Ibu Kota tanpa berpikir panjang lebar. Bekerja di salah satu gedung pencakar langit merupakan impian mereka, tetapi ya itulah mereka tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, keberhasilan atau sebaliknya?
Kemacetan di Ibu Kota seolah menggambarkan banyaknya orang yang melakukan aktivitas disekitar dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil. Ironis, ketika melihat banyaknya mobil, motor dan beberapa kendaraan lainnya yang terendam banjir pada awal tahun 2013.
Pluit, Jakarta Utara, merupakan salah satu kawasan elite yang terkena banjir cukup dalam. Banyaknya sampah menggenangi rumah mewah di kawasan tersebut. Tidak peduli berapa banyak harta benda yang terendam, karena yang mereka utamakan adalah tempat istirahat. Mereka yang memiliki harta lebih, berlomba-lomba menginap di hotel, sedangkan mereka yang nasibnya bertolak belakang hanya dapat berdiam diri dirumah untuk mempertahankan harta benda atau bahkan berdiam diri disebuah tenda kecil yang dipenuhi para pengungsi lainnya.
“Banjir tahun ini tuh banjir yang paling parah dari tahun sebelumnya dek tetapi ya gitu, masih banyak warga yang maksa untuk tetap dirumah” ujar seorang pendorong gerobak sewaan yang berbadan kurus dan berkulit hitam, maman. Ia adalah seorang pendorong gerobak sewaan yang berusia 32 tahun, namun siapa sangka bahwa pekerjaan maman sebelumnya adalah sebagai calo. Berbagai macam akan ia lakukan dari pengurusan SIM (Surat Izin Mengemudi), passport, STNK, dan lain-lain. Ia merupakan orang yang cukup cerdas karena telah mencari keuntungan dari banjir tersebut.
Banyaknya orang berlalu-lalang membuat para volunteer bencana banjir kesulitan untuk mengatur tumpukan-tumpukan kardus yang ada di beberapa tenda sekitar. Seorang mahasiswa berbadan tinggi dan tegap ini merupakan aktivis kampus yang selalu ada disetiap bencana yang terjadi seperti di Aceh dan Yogyakarta, Aditya. “Sebenarnya sulit juga sih ngatur waktu antara kuliah dan jadi relawan kayak gini, tetapi buat saya, turun langsung ke bencana itu wajib dan akan fun banget karena disanalah kalian bisa ngukur rasa kepedulian” ujar mahasiswa 21 tahun itu.
“Cobain deh kayak gitu, selain kalian bisa ngukur rasa kepedulian, kalian juga bisa kenal dengan banyak orang dan mengetahui suatu hal yang sebelumnya kalian enggak tahu. Dari orang yang ngajak kenalan, anak kecil yang minta diajarin jadi dokter, dan lain-lain. Tidak heran kenapa ia menyukai hal seperti itu. Aditya adalah mahasiswa fakultas kedokteran. Tujuan ia masuk fakultas kedokteran salah satunya untuk membantu banyak orang
Banjir yang terjadi pada awal tahun 2013 itu memang sempat membuat bunderan Hotel Indonesia terendam. Mereka yang memiliki banyak kendaraan pribadi seolah tidak diizinkan karena mobil-mobil tersebut terendam. Penduduk di bawah garis kemiskanan bertambah banyak tetapi mereka yang memiliki harta lebih sedang menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna.
Seorang wanita berrambut cokelat dan berbadan kurus itu sedang menunggu kereta api di stasiun dengan genggaman penuh dengan tas “enggak nalar lagi sih sama orang Jakarta, buang sampah suka seenaknya, liat aja nih banyak sampah, udah gitu gimana enggak macet kan semua kendaraan dirumahnya yang mereka punya dikeluarin, enggak bisa mandiri atau memanfaatkan transportasi yang udah disediain” ujar ajeng mahasiswa yang berusia 21 tahun.
Banjir tidak lain terjadi karena banyaknya sampah yang menumpuk dimana-mana. Hampir semua orang tidak bisa menjaga kebersihan, dari seorang pengendara yang membuang botol minum sembarangan, membuang putung rokok di jalan, membuang berbagai macam plastik dan sebagainya tidak pada tempat, itulah yang mengakibatkan banjir. Malu lah kepada diri sendiri karena Indonesia, tepatnya Jakarta tidak bisa sebersih Negara lain karena hal kecil yang kita lakukan.

Eisha Arifah Widyapuspita
11140110133

Tidak ada komentar:

Posting Komentar